Clock

Sabtu, 10 Oktober 2020

Dadakan sehaei ke Sukabumi 2018

 Halo semuanya, apa kabarnya kalian? semoga senantiasa diberikan kesehatan ya, amiinn...


Setelah berkesempatan ke Sukabumi pada 2016 dan 2017, pada 2018 pun gw kembali menuju ke Sukabumi tapi kali ini bukan untuk jalan-jalan melainkam untuk ke acara pernikahan rekan kantor tapi tetap dengan cara backpacker, hehe. Perjalanan kali ini bisa dibilang cukup dadakan karna gw baru dapat undangannya pada 2 pekan sebelum keberangkatan dimana tiket kereta Pangrango dari Bogor ke Sukabumi sangat sulit didapatkan. Sebetulnya ada alternatif 2 yaitu dengan naik Bus umum dan alternatif 3 dengan naik angkutan Colt dari Bogor.


Akhirnya gw masih bisa dapat tiket kereta Pangrango dari Bogor ke Sukabumi tapi hanya untuk berangkatnya aja, sedangkan tiket untuk pulang kembali sudah ludes. Gw sih pilih untuk naik Bus Parung Indah rute Sukabumi ke Lebak Bulus, karena gw pikir juga lebih simpel karena ga perlu ganti angkutan lagi meski bakal kejebak macet.


Hari yang gw tunggupun tiba, hari itu hari sabtu di mana seharusnya penumpang KRL tidak terlalu padat. Berangkat dari rumah dari sebelum subuh jam 04:30 untuk mengejar KA Pangarango dari Bogor berangkat jam 07:50, karena perjalanan dari Stasiun Jurangmangu ke Stasiun Bogor bisa sampai 2 jam. Sambil menunggu KRL pertama yang gelap itu, gw pun iseng nelpon teman gw bernama Ririn yang rumahnya di Tigaraksa agar cepat segera berangkat, tapi telepon tak kunjung diangkat sampai jam 06:00 walhasil si Ririn ini ketinggalan KRL.


Gw tiba di Stasiun Bogor jam 07:30, dengan sedikit terburu-buru gw langsung ke Stasiun Paledang yang ada di seberang jalan, tapi cukup melelahkan juga karena tangga yang curam. Untung udah ada teman gw yang lain, Mbak Ika sudah standby di sana untuk cetak tiket terlebih dahulu, tak lama pun waktu keberangkatan kereta akhirnya siap berangkat.


Sepanjang perjalanan ada beberapa view yang menarik untuk dinikmati, ada sawah, gunung, dan melewati beberapa sungai. Suasanya sungguh indah dan asri membuat hati jadi happy. Perjalanan 2 jam 15 menit pun jadi tak begitu terasa, sekitar jam 09:15 KA Pangrango tiba di Stasiun Sukabumi dan langsung kepikiran buat bagaimana caranya bisa sampai di acara pernikahan rekan kantor yang diadakan di daerah Nyalindung, selatan Kota Sukabumi akhirnya gw dan Mbak Ika memutuskan untuk coba order taksi online barangkali ada yang mau.


Tak lama menunggu, ternyata ada driver taksi online yang menerima orderan ke Nyalindung dengan tarif Rp150.000 per mobil, jarak yang ditempuh adalah sekitar 90 menit karena kontur jalan yang berkelok dan menanjak. Driver taksi online ini selain informatif, tapi juga sabar dan komunikatif. Dia berucap tidak masalah mengantar penumpang dengan jarak jauh sekalipun daripada dia tidak mendapat penumpang, sungguh profesional ya.


Setelah negosiasi akhirnya kita menyetujui tarif Rp 250.000 untuk tarif pulang pergi + berkeliling sebentar sebelum akhirnya mengatarkan ke Terminal AKAP Sukabumi, berhubung waktu itu gw kehabisan tiket KA Pangrango alhasil harus naik Bus AKAP waktu itu naiknya Bus Parung Indah jurusan Ciawi - Lebak Bulus.


Kita kembali ke perjalanan menuju Nyalindung, perjalanan kali ini cukup berkesan karna melewati daerah pinggiran Sukabumi yang sangat tenang, sepi dan sejuk. Daerah yang masih jarang jadi sorotan orang memang selalu menarik untuk dijelajahi. 


Pada pukul 11:30 akhirnya sampai juga di daerah Nyalindung ini, setelah berbincang dan berfoto dengan pasangan pengantin, makan sedikit dan bersiap ke Kota Sukabumi lagi, karena takut  kesorean dan kalo sore bakalan macet parah menuju Jakarta. 


Jam 13:00 mobil taksi online yang gw sewa dadakan ini meluncur kembali ke Kota Sukabumi, sebelum menuju terminal Bus gw meminta driver untuk mampir sebentar ke pusat oleh oleh Mochi Gang Kaswari. Di tempat ini ada banyak jenis oleh oleh yang bisa kita beli dengan kualitas terbaik, tapi yang paling terkenal tentunya mochi nya ya. Di Mochi Kaswari ini dijualnya per box gitu, jadi kita tidak bisa beli porsi sedikit yang paling murah mulai dari Rp15.000. Antrian pembeli siang itu cukup banyak sehingga kita harus bersabar untuk dapat apa yang mau kita beli.


Hingga jam 15:30 kita baru selesai dari toko oleh oleh dan langsung aja menuju Terminal Bus AKAP. Sesampainya di terminal, suasana sepi di terminal ini sempat bikin gw berpikir kalo tidak ada bus yang operasional. Tapi ternyata salah, setelah agak berkeliling gw menemukan Bus Parung Indah jurusan Lebak Bulus sedang terparkir, langsung aja gw naiki dan tak lama kemudian diikuti penumpang yang lainnya. Bus baru berangkat pada 16:15 setelah bus terisi setengah. Bus Parung Indah ini bertarif Rp 25.000 untuk rute Sukabumi ke Bogor dan Rp 35.000 untuk Sukabumi ke Lebak Bulus.


Gw tertidur sepanjang perjalanan pulang ini karena jalanan cukup macet sore itu, gw terbangun pada saat jelang magrib 17:30 di daerah Cibadak. Sore itu hujan deras ditambah macet parah menambah kesan bahwa berpergian sehari ke Sukabumi adalah hal yang cukup melelahkan benar adanya. Teman gw Mbak Ika harus turun di perempatan Ciawi pada jam 19:30, itu berarti butuh waktu 4 jam yang dihabiskan dari Sukabumi ke Bogor, jangan ditanya gimana lelahnya.


Dan akhirnya gw sampai juga di Lebak Bulus pada 20:30, itu berarti hanya butuh 1 jam dari Bogor hingga Lebak Bulus, cukup cepat karena tidak macet dan memang full tol. Setibanya di Lebak Bulus gw pun langsung order ojek online untuk bisa sampai rumah. Gw tiba di rumah di Tangerang Selatan pada 21:00 dan selesai sudah perjalanan dadakan selama sehari ke Sukabumi untuk kali ini di 2018. Semoga kita selalu diberikan rezeki dan kesehatan agar bisa mengelilingi indahnya Indonesia dan dunia ini.


Senin, 28 September 2020

Backpacker singkat di Sukabumi 2017

 Backpacker singkat di Sukabumi 2017


Halo semuanya, setelah sebelumnya gw bercerita tentang pengalaman ke Sukabumi selama 1 hari pada 2016 lalu, kali ini gw akan bercerita pada setahun setelahnya ke Sukabumi selama 2 malam. Rute backpacker kali ini sangat cocok buat yang hanya jatah libur selama satu hari dalam seminggu. Karena perjalanan kali ini berangkat pada Sabtu malam dan pulang pads Senin pagi. Jadi masih bisa kerja di hari sabtu dan senin nya.


Perjalanan kali ini berawal dari keisengan gw dan teman gw yang namanya Surya. Iseng karena ingin liburan yang beda tapi tidak terlalu jauh dari Jakarta. Dan waktu itu kita berdua hanya dapat libur 1 hari saja dihari sabtu. 


Kita baru selesai kerja pada jumat sore jam 4 sore sedangkan jadwal Kereta Api Pangrango berangkat 18:30 dari Bogor. Alhasil dengan terburu buru langsung ke Stasiun Cawang buat naik KRL ke Bogor. Normalnya perjalanan dari Cawang ke Bogor sekitar 1 jam saja dengan KRL, tapi sialnya hari itu ada beberapa gangguan pada jalur kereta api sehingga perjalanan KRL jadi terhambat. Alhasil baru sampai di Stasiun Bogor pukul 18:16, kurang dari 15 menit lagi untuk berpindah stasiun ke Stasiun Paledang yang ada di seberang Stasiun Bogor KRL ditambah menyebrangi jembatan penyebrangan yang curam. Dengan secepat kilat pun gw dan teman gw berlari tunggang langgang disaat hujan deras turun. Ya malam itu hujan deras turun di Bogor menambah degdegannya gw lari lari. Awalnya sempat frustasi dan pesimis sih, tapi Alhamdulilah bisa sampe di gerbang cek in pas 2 menit sebelum jadwal keberangkatan. 


Dengan basah kuyup memasuki kereta dan menjadi pusat perhatian penumpang yang lain. Perjalanan kereta dari Bogor ke Sukabumi ditempuh selama 2 jam. Karena tidak banyak yang bisa dilihat di luar akhirnya gw tertidur karena rasanya dingin banget kereta ini.


Begitu sampai di Stasiun Sukabumi gw langsung bergegas order taksi online menuju rumah kerabatnya Surya yang ada di dekat GOR Icuk arah Situ Gunung. Perjalanan dari Stasiun Sukabumi menempuh waktu 30 menit saja karna waktu itu tidak terlalu macet. Tiba pukul 21:45 membuat rasa ngantuk makin menjadi, tapi gw juga lapar banget alhasil makan mie instan adalah pilihan yang cepat dan tepat. Selesai makan ga lama pun gw tertidur dengan pulasnya.


Keesokan paginya gw sarapan dengan nasi uduk yang dijajakan sekitar GOR Icuk. Rasa Jakarta masih terasa hingga Sukabumi, maklum ya berhubung ga terlalu jauh. Selesai sarapan gw bergegas ke Selabintana dengan order taksi online, tapi pagi itu ga ada driver yang mau antar alhasil jadinya gw dan Surya memilih naik angkot dulu sampai ke Cisaat. Nah berhubung Cisaat ini adalah pasar yang ramai supir angkot dan ojek pangkalan, akhirnya gw punya ide untuk order taksi online dari Polsek Cisaat, cari aman, hehe. Tapi kali ini gw ga langsung ke Selabintana, melainkan ke Bubur Bunut untuk sarapan ronde 2. Bubur Bunut ini sangat terkenal dengan rasanya yang nikmat dan khas. Pengunjung yang makan di sini juga luar biasa padatnya hingga jalanan di depannya macet karena mobil berebutan parkir. Dan memang benar rasa bubur ini sedap banget, waktu itu harganya Rp 15.000 per porsi.


Setelah selesai makan bubur langsung aja meluncur ke Selabintana yang jaraknya udah ga terlalu jauh lagi. Sampai di sana ternyata pengunjungnya udah banyak banget, sebenarnya tersedia kolam renang di sini tapi kok rasanya bakal menggigil ya berhubung cuacanya memang sangat dingin alhasil akhirnya cuma bersantay di rerumputan hijau yang terhampar luas juga tak kalah serunya. 


Walaupun rumputnya agak basah karna hujan semalam tapi tak menyurutkan pengunjung lain untuk ikut sekedar duduk-duduk. Terlihat juga beberapa pedagang makanan ringan diantara bawah pepohonan yang rindang.


Sebetulnya mau berlama lama di sini, tapi gw dan Surya harus bergegas ke destinasi selanjutnya yaitu Situ Gunung. Sekedar tips kalo mau ke Situ Gunung sebaiknya dari pagi-pagi atau kalo mau bisa menginap di dekat pintu gerbang kawasan bahkan bisa juga camping di tepian danau nya lho. Seru kan? Tapi harus siap-siap menggigil kalo malam hari. 


Perjalanan dari Selabintana ke Situ Gunung menempuh waktu 30 menit dengan taksi online. Tiket masuknya waktu itu dikenakan Rp15.000/orang, worth it banget lah. Setibanya di Situ Gunung, gw ga langsung ke danau utama nya melainkan ke Curug Sawer yang dikenal memiliki keindahan khasnya yang cukup mistis. Dari gerbang kawasan wisata Situ Gunung ini memiliki petunjuk arah yang sangat jelas jadi kita cukup ikuti aja.


Tapi ternyata ga semudah yang dibayangkan karna jarak yang harus ditempuh ditambah medan yang terjal, jalanan tanah yang licin sehabis hujan menambah indahnya menyusuri kaki Gunung Gede-Pangrango. Hari itu adalah hari sabtu tapi kebetulan tidak begitu banyak pengunjung yang datang kesini. Batu demi batu, lumpur demi lumpur kita lewati, setelah 2 jam terus berjalanan akhirnya sampai di Curug Sawer, dan ternyata sudah banyak pengunjung yang ada. Berhubung waktu sudah sore, jam 4 sore kita baru sampai di curug dan harus segera kembali ke gerbang utama kawasan untuk mengejar angkot. Setibanya kembali di gerbang utama kawasan itu sudah magrib, jam 6 sore dimana angkot sudah tidak beroperasi lagi kata salah seorang penjaga gerbang kawasan.


Mendengar info itu, gw pun kaget bukan kepalang walaupun sebetulnya jarak ke GOR Icuk tidak terlalu jauh, tapi rasanya kaki ini udah ga kuat lagi buat jalan kaki. Tetap dengan rasa optimis, gw akhirnya coba terus berjalanan menjauhi gerbang kawasan Situ Gunung dan ga sengaja melihat mobil angkot sedang menepi di pinggir rumah dan ternyata itu adalah rumah milik si supirnya. Sang supir yang baik hati bersedia mengantarkan padahal dia bermaksud ingin membersihkan mobilnya saja. 


Akhirnya gw dan Surya pun tiba dengan selamat, dengan rasa lapar juga pula yang gw tambal dengan mie instan 3 bungkus ditambah telur dan nasi. Saking kenyangnya gw pun ketiduran hingga terbangun dengar alarm yang sudah gw setel jam 04:00, karena Kereta Pangrango yang membawa dari Stasiun Cisaat ke Stasiun Bogor akan berangkat jam 5 pagi. Perjalanan pagi itu terbilang ramai, karena penumpang yang naik penuh.


Tiba di Bogor tepat 07:10, berhubung gw merasa sangat lapar akhirnya melipir dulu ke KFC yang ada di seberang Stasiun Bogor. Lumayan bisa sarapan di sini karena pilihan menu yang beragam dan porsinya lumayan banyak. Selesai makan gw pun langsung menuju ke Stasiun Bogor untuk naik KRL sampai rumah di Tangerang Selatan.


Perjalanan kali kedua ke Sukabumi ini cukup berkesan bagi gw, karena Sukabumi yang bisa dibilang kalah pamor dari Puncak Bogor ternyata memiliki destinasi yang jauh lebih indah dan asrinya, hanya tinggal aksesbilitas dari Jakarta menuju Sukabumi yang kiranya dapat membuat pariwisata bergairah.



Jumat, 18 September 2020

Privacy Policy

Privacy Policy for Adiyanto Ricky Blog

At Adiyanto Ricky Blog, accessible from www.rickyadiyanto.blogspot.com, one of our main priorities is the privacy of our visitors. This Privacy Policy document contains types of information that is collected and recorded by Adiyanto Ricky Blog and how we use it.

If you have additional questions or require more information about our Privacy Policy, do not hesitate to contact us.

Log Files

Adiyanto Ricky Blog follows a standard procedure of using log files. These files log visitors when they visit websites. All hosting companies do this and a part of hosting services' analytics. The information collected by log files include internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date and time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. These are not linked to any information that is personally identifiable. The purpose of the information is for analyzing trends, administering the site, tracking users' movement on the website, and gathering demographic information. Our Privacy Policy was created with the help of the Privacy Policy Generator and the Privacy Policy Generator.

Cookies and Web Beacons

Like any other website, Adiyanto Ricky Blog uses 'cookies'. These cookies are used to store information including visitors' preferences, and the pages on the website that the visitor accessed or visited. The information is used to optimize the users' experience by customizing our web page content based on visitors' browser type and/or other information.

For more general information on cookies, please read the "What Are Cookies" article on Cookie Consent website.

Google DoubleClick DART Cookie

Google is one of a third-party vendor on our site. It also uses cookies, known as DART cookies, to serve ads to our site visitors based upon their visit to www.website.com and other sites on the internet. However, visitors may choose to decline the use of DART cookies by visiting the Google ad and content network Privacy Policy at the following URL – https://policies.google.com/technologies/ads

Our Advertising Partners

Some of advertisers on our site may use cookies and web beacons. Our advertising partners are listed below. Each of our advertising partners has their own Privacy Policy for their policies on user data. For easier access, we hyperlinked to their Privacy Policies below.

Privacy Policies

You may consult this list to find the Privacy Policy for each of the advertising partners of Adiyanto Ricky Blog.

Third-party ad servers or ad networks uses technologies like cookies, JavaScript, or Web Beacons that are used in their respective advertisements and links that appear on Adiyanto Ricky Blog, which are sent directly to users' browser. They automatically receive your IP address when this occurs. These technologies are used to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on websites that you visit.

Note that Adiyanto Ricky Blog has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

Third Party Privacy Policies

Adiyanto Ricky Blog's Privacy Policy does not apply to other advertisers or websites. Thus, we are advising you to consult the respective Privacy Policies of these third-party ad servers for more detailed information. It may include their practices and instructions about how to opt-out of certain options.

You can choose to disable cookies through your individual browser options. To know more detailed information about cookie management with specific web browsers, it can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?

Children's Information

Another part of our priority is adding protection for children while using the internet. We encourage parents and guardians to observe, participate in, and/or monitor and guide their online activity.

Adiyanto Ricky Blog does not knowingly collect any Personal Identifiable Information from children under the age of 13. If you think that your child provided this kind of information on our website, we strongly encourage you to contact us immediately and we will do our best efforts to promptly remove such information from our records.

Online Privacy Policy Only

This Privacy Policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website with regards to the information that they shared and/or collect in Adiyanto Ricky Blog. This policy is not applicable to any information collected offline or via channels other than this website.

Consent

By using our website, you hereby consent to our Privacy Policy and agree to its Terms and Conditions.

Jambi + Padang Backpacker Super Hemat dari Jakarta . Part 3

 Jambi + Padang Backpacker Super Hemat dari Jakarta . Part 3

Link untuk Part 2: https://rickyadiyanto.blogspot.com/2020/09/jambi-padang-backpacker-super-hemat.html?m=1


Note: dalam perjalanan selama dua hari hari di Padang ini  dokumentasi foto dan videonya dapat dilihat di akun Instagram: rickyadiyanto.1997 dikarenakan file asli dari foto dan videonya sudah tidak ada lagi karna satu dari lain hal, tapi tetap diusahakan untuk menceritakan perjalanan saya secara detail di blog ini. Terima kasih sudah mau berkunjung ke blog ini




Dari Plaza Andalas gw mencoba berjalan kaki menyusuri padatnya jalanan di Kota Padang malam itu menuju Pantai Padang. Berbeda dengan siang hari yang lengang, malam ini suasanya luar biasa padat oleh pengunjung. Di sini tidak perlu bingung kalo mau makan seafood atau sekedar bersantay minum kopi karna berjejer para pedagang makanan dengan kursi meja dan payung kecil di sepanjang pantai ini. Kurang lebih mirip seperti Pantai Jimbaran di Bali namun ini dengan harga lebih terjangkau. Kita bisa merasakan sensasi makan di bawah sinar rembulan, dengan deburan ombak dan aneka seafood yang terasa segar.


Semakin malam pengunjung yang ada terlihat semakin ramai dan hujan yang turun semakin deras. Di Pantai Padang terdapat Tugu Merpati Perdamaian yang diresmikan pada 2016 lalu. Yang unik, meski malam semakin larut tapi masih ada saja beberapa pengunjung yang berfoto ria sembari bermain air di sepanjang pantai, wah agak ngeri gitu ya.


Menjelang pergantian tahun hujan yang turun semakin deras semoga ini adalah petanda rejeki yang akan deras juga pada 2018. Akhirnya yang ditunggu tiba juga, pesta kembang api. Hujan yang deras tak menyurutkan keseruan di pantai ini. Karena semakin menggigil kedinginan gw pun memutuskan untuk segera kembali ke penginapan dengan ojek online. Ya meskipun jalanan terlihat luar biasa padatnya pada malam itu, tapi gw tetap berusaha untuk order ojek online dan setelah menunggu tak lama si driver pun tiba dan langsung mengebut ke penginapan gw di Padang Timur dengan selamat, tidak sampai 10 menit menembus padatnya lalu lintas malam tahun baru.


Sampai di penginapan gw langsung berganti baju dan bergegas tidur. Besok paginya gw sebetulnya ingin banget berkunjung singkat ke Bukittinggi karena jadwal pesawat pulang ke Jakarta adalah jam 18:00 yang mana masih ada waktu cukup lumayan untuk bisa pulang pergi dengan mobil travel.


Nah tapi karena habis begadang semalam, alhasil bangunnya jadi kesiangan dan baru terbangun jam 08:00 pagi. Lapar dan bingung akhirnya gw putuskan untuk segera check out dan bergegas ke restoran cepat saji terdekat karena gw lihat beberapa rumah makan konvesional masih pada tutup. Ya maklum aja karena sehabis malam tahun baru mungkin pada belum bangun tidur. 


Nah selesai makan, gw putuskan untuk ke Stasiun Padang mengejar jadwal keberangkatan kereta ke Pariaman saja. Menikmati keindahan pantai di Pariaman yang tak kalah indahnya. Tapi gayung belum bersambut karena setibanya gw di Stasiun Padang sudah sangat padat dan tiket Kereta Sibinuang sudah ludes terjual.


Jam sudah menunjukkan pukul 10:00, daripada bingung mau kemana akhirnya milih untuk keliling dengan Bus Trans Padang. Bus ini mirip dengan TransJakarta atau Trans Jogja, berpendingin AC dan halte yang tinggi. Beberapa lokasi populer yang dilewati diantaranya, Masjid Raya Sumatera Barat, Kantor Gubernur Sumatera Barat, dan Pasa Raya Padang. Gw milih berhenti di Masjid Raya Sumatera Barat dan Pasa Raya Padang. Dan akhirnya di Pasa Raya Padang ini bisa makan masakan khas Minang secara otentik. Waktu itu gw makan nasi rendang, menu yang lezatnya sudah terkenal mendunia ternyata rasa rendang yang asli dimakan di Padang ini terasa sangat lezatnya, susah. diungkapkan kata-kata pokoknya.


Selesai makan lalu gw mencoba untuk berkeliling melihat lihat ada apa saja di Pasa Raya ini yang ternyata barang yang dijajakan pun kurang lebih sama seperti pasar pada umumnya.


Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang dan gw tetap ingin mencoba menaiki Kereta Sibinuang tapi dengan rute yang lebih pendek. Gw pun langsung bergegas kembali ke Stasiun Padang dengan ojek online. Sesampainya di sana untuk saja masih kebagian tiket untuk ke Stasiun Duku. Stasiun Duku tidak berada di Bandara Internasional Minangkabau, tapi stasiun ini adalah yang terdekat dengan bandara berhubung pada saat itu 2017 belum beroperasinya Kereta Bandara Minangkabau, baru setahun setelahnya yaitu pada 2018 akhirnya Kereta Minangkabau Express resmi beroperasi dengan tarif tiket Rp 10.000. Nah kalo waktu itu tarif dari Stasiun Padang ke Stasiun Duku hanya Rp 6.000.


Jadwal keberangkatan Kereta Sibibuang menurut jadwal adalah pukul 15:00 dan ternyata kereta berangkat tepat waktu. Perjalanan dari Stasiun Padang ke Stasiun Duku menempuh waktu 45 menit. Kereta ini berjalan cukup lambat karena jalur keretanya hanya satu sisi saja jadi harus bergantian dengan kereta dari arah sebaliknya.


Setibanya di Stasiun Duku ternyata penumpang yang turun hanya gw sendiri dan suasana stasiun ini sangatlah sepi. Bangunan stasiun ini terlihat masih sangat baru dipugar dengan ornamen khas Minangkabau, cocok untuk berfoto foto. Keluar area stasiun suasanya masih sama, sepi nah karena sepi dengan mudahnya bisa pesan angkutan online menuju terminal bandara.


Begitu tiba di Bandara Minangkabau pada pukul 16:10, dan ternyata masih ada aja oknum calo tiket yang menawarkan tiket pesawat, maklum hari ini tepat 1 Januari 2018 mungkin banyak orang yang kehabisan tiket. Dan ada satu hal yang kelupaan, yaitu beli oleh-oleh. Akhirnya gw pun memutuskan untuk beli di toko oleh-oleh yang ada di bandara adalah hal yang kurang tepat karna harganya cukup mahal, satu bungkus kripik balado saja tembus Rp15.000.


Saat gw melakukan proses check in, terlihat antrian panjang yang mengular untuk maskapai singa merah. hehe maklum aja karna memang harga tiketnya yang paling terjangkau.


Waktu keberangkatan pesawat pukul 18:30 tapi belum juga ada tanda-tanda untuk boarding ke pesawat, dan benar saja pesawatnya delay. Entah sampai berapa lama karna tidak diinfokan dan petugas maskapai pun sudah terlihat lelah meladeni cacian dari para penumpang. Kali ini maskapai memberikan kompensasi berupa makanan berat yaitu nasi + ayam goreng + minuman. Hingga pukul 20:00 barulah ada pengumuman bahwa pesawat akan diberangkatkan 30 menit lagi. total waktu delay untuk penerbangan kali ini adalah selama 2 jam, ini masih terbilang mending jika dibandingkan penerbangan yang lainnya bahkan bisa hingga 6 jam keterlambatan.


Tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 21:50 gw segera bergegas menuju halte bus Damri karna jadwal kereta terakhir adalah pukul 22:15 yang mana sangat mepet. Beruntungnya Bus Damri ini beroperasi hingga 23:30 sehingga bisa menghemat budget dari bandara. Gw menaiki Bus Damri tujuan Lebak Bulus dan turun di tujuan akhir lalu sambung naik ojek online hingga sampai di rumah tepat tengah malam.


Perjalanan singkat selama 3 hari di 2 provinsi kali ini adalah kali pertama gw ke Pulau Sumatera, pertama kali juga pergi luar kota sendiri dengan menginap. Dan gw pun sudah menyusun beberapa agenda dan tujuan kota berikutnya karna gw sangat ingin menjajaki setiap kota di Indonesia dsn tentunya setelah itu seluruh dunia. Semoga kita senantiasa diberkahi kesehatan rezeki agat tetap bisa backpacker. 


Untuk trip berikutnya gw akan berkunjung ke Sukabumi dan bisa disimak juga ceritanya di blog ini.


Senin, 14 September 2020

Jambi + Padang Backpacker Super Hemat dari Jakarta . Part 2

 Jambi + Padang Backpacker Super Hemat dari Jakarta . Part 2

Berikut ini adalah link untuk Part 1 : https://rickyadiyanto.blogspot.com/2018/01/jambi-padang-backpacker-super-hemat.html?m=1

Halo teman-teman semua, kali ini saatnya kembali lanjutkan pengalaman saat menjelajahi dari bagian timur Pulau Sumatra hingga ke barat pulau yang biasa disebut sebagai Andalas itu.



Note: dalam perjalanan selama dua hari hari di Padang ini  dokumentasi foto dan videonya dapat dilihat di akun Instagram: rickyadiyanto.1997 dikarenakan file asli dari foto dan videonya sudah tidak ada lagi karna satu dari lain hal, tapi tetap diusahakan untuk menceritakan perjalanan saya secara detail di blog ini. Terima kasih sudah mau berkunjung ke blog ini


Kondisi bus nya cukup baik dan nyaman, AC terasa dingin dan tersedia juga bantal serta selimut sepanjang perjalan, tapi jangan dibawa pulang ya. Nah malam itu penumpang bus ini terlihat cukup penuh yaitu sekitat 75% dari kapasitas bus. Tepat pukul 19:00, akhirnya bus berjalan juga meninggalkan Kota Jambi dengan beberapa kali singgah untuk menaikkan penumpang lagi di sepanjang perjalanan.


Sepanjang perjalanan tidak banyak yang bisa dilihat selain hutan sawit dari remang sinar bulan. Setelah melewati perjalanan yang panjang selama 10 jam, pada pukul 05:30 akhirnya tiba juga di Pool Bus Family Raya Ceria di Kota Padang. 


Awalnya sempat bingung mau pergi kemana dari pool bus ini, kalo mau langsung ke homestay tapi takut masih tutup karna masih pagi buta. Akhirnya terlintas pikiran untuk singgah alias numpang ngadem di restoran 24 jam, ya McDonald. Hahahaha, udah jauh-jauh ke Padang tapi tetep restoran fast food yang dipikirkan. Habis mau gimana, selain bisa istirahat dengan nyaman tapi bisa juga untuk sekedar ngopi sembari mengisi powerbank yang sudah mulai habis.


Jam 08:00 coba iseng untuk cek tarif ojek online ke Pantai Air Manis alias Pantai Malin Kundang yang sudah sangat terkenal itu. Waktu itu tarifnya sekitar Rp 40.000 untuk sekali jalan dari Kota Padang, berhubung akses menuju Pantai Malin Kundang tergolong sulit buat dapant angkutan umum jadinya ojek online ini adalah solusi jika tidak memungkinkan bawa kendaraan sendiri.


Setelah mendapat driver yang sedia mengatar, si driver ini rupanya menawarkan agar bisa juga mengantar kembali ke Kota Padang karena di kawasan Pantai Malin Kundang itu kata dia jarang/sulit sekali untuk dapat angkutan online. Dia menawarkan tarif yang sama untuk kembali ke Kota Padang tanpa menggunakan aplikasi yang bersedia menunggu di pantai itu pula. Wah, ini sih namanya rejeki ya, niat mau backpacker super hemat dan bersambut dengan inisiatif baik hati driver ojek online ini. 


Seteleh perjalanan motor selama 30 menit dari McDonald Padang, akhirnya tiba juga di Pantai Malin Kundang. Ternyata pagi itu di sana sudah cukup ramai oleh pengunjung. Apalagi semakin siang akan lebih ramai lagi pengunjungnya. 


Satu hal yang menarik dari Pantai Malin Kundang ini adalah ternyata rupa batu Malin Kundang itu senditi sudah tidak terlalu nampak seperti dulu lagi. Entah apa penyebab pastinya, tapi bisa jadi karena dampak deburan ombak laut dan lainnya. Selain memiliki keunikan batu Malin Kundang, di pantai ini juga bisa merasakan kesegeran alami pantai ini karena bibir pantainya yang sangat luas jika dibandingkan pantai lainnya.


Keindahan pantai ini ditambah lagi karena tepat tak jauh di seberang sana terdapat Pulau Pisang Ketek, sebuah pulau kecil yang bisa kita sebrangi dengan berjalan kaki jika air laut sedang surut pada pagi hari. Sesekali deburan air laut membasahi telapak kaki saat menyebrangi pasir pantai yang timbul ini. Kalo punya waktu lebih, bisa banget sekalian menyebrang ke Kepulauan Mentawai dengan kapal ferry selama 10-12 jam dari Pelabuhan Teluk Bungus atau bisa lebih cepat dengan pesawat Susi Air dari Bandara Minangkabau. Di Kepulauan Mentawai kita bisa lebih menikmati keindahan laut, mungkin lain kali ya bisa ke sana.


Setelah puas menikmati keindahan Pantai Air Manis ini tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10:00, saatnya pergi meninggalkan pantai ini karna air laut semakin tinggi dan pengunjung semaki ramai. Tujuan berikutnya adalah Pantai Padang, sama-sama pantai tapi ini berlokasi persis dikeramaian pusat kota Padang jadi sangat disarankan untuk yang mau menginap di Padang di sekitaran pantai.


Sekitar jam 11:00 siang sudah tiba di Pantai Padang dan ternyata suasananya cukup sepi saat siang. Pantai nya cukup sempit jika dibandingkan dengan Pantai Air Manis. Karena sepi dan cuaca cukup terik siang itu, akhirnya gw putuskan untuk ke tujuan berikutnya yaitu Museum Adityawarman.


Museum Adityawarman ini hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan saja dari Pantai Padang. Museum ini gratis tanpa dipungut biaya dan saat kita masuk akan disambut oleh petugas penjaga yang meminta kita menuliskan nama dan asal daerah. Saya lihat ada cukup banyak turis asing dari Malaysia, terlebih Kota Padang ini terhubung langsung oleh penerbangan ke Kuala Lumpur bahkan bisa 3 jadwal dalam sehari.


Museum ini memiliki bentuk rumah gadang khas Minang yang sangat indah dan otentik. Di dalamnya terdapat berbagai macam jenis pakaian adat, lalu ada juga serba serbi info kebudayaan khas Minang. Museum ini juga memiliki pelataran yang cukup lapang dan bisa untuk para pengunjung berfoto ria di depannya.


Tidak terasa sudah jam 1 siang dan belum check in ke penginapan. Nah, ini adalah salah satu kekeliuran gw dalam memilih penginapan yang mana hanya memilih penhinapan dengan rate harga paling rendah, hahahaha. Padahal dengan nambah sedikit aja udah bisa dapat penginapan dengan fasilitas lebih baik di tengah kota.


Penginapan gw di Padang ini bernama Benyamin 2, adalah penginapan dengan rate harga termurah di Kota Padang namun berlokasi agak pinggir kota tepatnya di Jalan Aur Duri Indah,  Padang Timur. Saat tiba di penginapan ini gw disambut oleh penjaga yang sepertinya adalah anak dari pemilik penginapan ini yang nampak kebingungan mengenai proses check in, alhasil harus menunggu pemilik penginapan ini datang.


Penginapan Benyamin 2 ini sangat simpel dan ringkas, terdspat satu kasur ukuran single bed, kamar mandi di dalam dan kipas angin. Ya, kipas angin karna memang kamar seharga Rp 115.000 ini adalah tanpa AC.


Gw sempat bingung mau beli makanan di mana karena posisi penginapan ini ada di dalam kawasan perumahan yang tidak  ada restoran/rumah makan terlihat. Akhirnya gw pun berinisiatif untuk pesan via aplikasi ojek online. Tanpa pikir panjang begitu muncul rekomendasi makanan Sate Padang di halaman awal langsung aja order dan ternyata tidak perlu menunggu lama. 


Begitu makanan tiba, langsung aja deh dilahap. Rasa sate ini sangat lembut tidak alot, kuahnya yang kental gurih dan hangat menambah kenikmatan sate ini. Nah, berhubung ini kali pertama makan sate padang gw pun sebetulnya belum tau terbuat dari apa sate ini. Dan ya ternyata sate padang ini terbuat dari lidah sapi. Ga pernah nyangka sebelumnya bisa makan lidah sapi yang kalo dibayangin bentuknya agak gimana gitu, hehehe.


Setelah makan, barulah terasa ngantuk karna sepanjang perjalanan dari Jambi terasa kuranv nyenyak tidurnya. Bagun tidur jam 4 sore dan ternyata hujan turun cukup derasnya. Tapi gw tetap nekat untuk melanjutkan petualangan di Kota Padang ini apalagi malam ini adalah malam pergantian tahun menuju tahun 2018. Gw putuskan untuk tetap pergi keluar dengan taksi online menuju ke salah satu kedai es durian terkenal di Kota Padang, yaitu Iko Gantinyo.


Tiba di kedai ini suasanya luar biasa ramai oleh pengunjung. Gw pun langsung aja masuk dan pesan es durian yang terkenal itu. Rasanya sangat lembut, dingin dengan aroma dan sensasi khas durian. Harganya Rp15.000 untuk 1 porsinya waktu itu disediakan juga gratis air mineral ukuran kecil sebagai penetralisir.


Setelah itu gw ke tujuan berikutnya yaitu Plaza Andalas. Kalo dari Pantai Padang bisa terlihat cukup jelas mall ini karena memang tidak terlalu jauh dari pesisir laut. Dan ya hampir serupa dengan mall lainnya pada umumnya di sini terdapat beberapa restoran cepat saji, Ramayana, toko pakaian serta ada tempat bermain anak dan bioskop di lantai paling atas.


Dari Plaza Andalas gw mencoba berjalan kaki menyusuri padatnya jalanan di Kota Padang malam itu menuju Pantai Padang. Berbeda dengan siang hari yang lengang, malam ini suasanya luar biasa padat oleh pengunjung. Di sini tidak perlu bingung kalo mau makan seafood atau sekedar bersantay minum kopi karna berjejer para pedagang makanan dengan kursi meja dan payung kecil di sepanjang pantai ini. Kurang lebih mirip seperti Pantai Jimbaran di Bali namun ini dengan harga lebih terjangkau. Kita bisa merasakan sensasi makan di bawah sinar rembulan, dengan deburan ombak dan aneka seafood yang terasa segar.

Untuk lanjutan perjalanan backpacker selama di Padang ini akan berlanjut ke Part 3 ya, agar tidak terlalu panjang dalam satu page.

Link untuk Part 3: https://rickyadiyanto.blogspot.com/2020/09/jambi-padang-backpacker-super-hemat_18.html?m=1

Minggu, 07 Januari 2018

Jambi + Padang Backpacker Super Hemat dari Jakarta . Part 1

Halo teman-teman semua, masih dalam semangat tahun baru 2018 kali ini gw akan berbagi pengalaman saat menjelajahi dari bagian timur Pulau Sumatra hingga ke barat pulau yang biasa disebut sebagai Andalas itu.

Note: dalam perjalan selama satu hari di Jambi ini  dokumentasi foto dan videonya dapat dilihat di akun Instagram: rickyadiyanto.1997 dikarenakan file asli dari foto dan videonya sudah tidak ada lagi karna satu dari lain hal, tapi tetap diusahakan untuk menceritakan perjalanan saya secara detail di blog ini. Terima kasih sudah mau berkunjung ke blog ini

Perjalanan kemarin itu sudah gw rencanakan sejak bulan September 2017, atau 3 bulan sebelumnya. Kebetulan dapat tiket yang harganya worth-it dari Cengkareng ke Jambi hanya Rp 420.000 tgl 30 Desember 2017 dan pulangnya gw dari Padang ke Cengkareng tgl 1 Januari 2018 itu Rp 650.000. Tentunya dengan Maskapai Singa merah dong ya, hehe 😊😊

Pertama kalinya ke Pulau Sumatra ini sebetulnya niat awalnya ke wilayah selatan, Lampung + Palembang, tapi berhubung harga tiketnya ga beda jauh yasudah akhirnya yang agak jauhan dikit aja sekalian dan mumpumg momentumnya tahun baru. Perlu diingat juga kalo gw melakukan perjalanan ini sendirian pula, jadi makin menantang diri sendiri 🙄

Akhirnya tanggal yang udah gw tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, 30 Desember 2017 jam 04:00 pagi buta gw udah bangun untuk mandi dan menuju airport Soekarno Hatta yang sebetulnya flight masih jam 09:40 😅 sehari sebelumnya juga gw udah booking tiket Kereta Bandara Soekarno Hatta yang waktu itu masih promo Rp 30.000 aja jadi ya sekalain nyobain deh

Dari rumah jam 04:30 naik gojek ke Stasiun KRL Jurangmangu, lalu naik KRL ke Stasiun Sudirman sebetulnya, tapi ternyata jadwal KRL dan jadwal kereta bandara tidak terintegrasi dengan benar. Setibanya gw di Stasiun Tanah Abang jam 05;40 ternyata belum ada KRL arah ke Sudirman sampai 1 jam kedepan sedangakan jadwal kereta bandara yang sudah gw pesen itu adalah keberangkatan jam 06:20. Aneh kan? 😣

Akhirnya daripada menunggu yang ga pasti gitu gw naik gojek aja dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Sudirman Baru ( BNI City ), dannn sampai di Stasiun Sudirman Baru hanya tinggal 10 menit sebelum keberangkatan kereta. Nyaris! 😏

Perjalanan KA Bandara ini diisi kurang dari setenganya, penumpangnya tentu adalah yang ada flight pagi tentunya dan sekalian mencoba fasilitas infrastuktur mahal ini. Sebetulnya sih, kalo gw dari Ciputat ke bandara aja udah 1 jam perjalanan sedangkan perjalanan kereta bandara ini juga udah 1 jam perjalanan, jadi bagi yang rumahnya di Bodetabek kurang efisien dari segi waktu dan ongkos yang saat blog ini ditulis Rp 75.000/orang. Mungkin ya kereta bandara ini dikhususkan buat pekerja/business man yang ada di Jakarta

Perjalanan kereta bandara ditempuh selama 50 menit, jam 07:10 sudah sampai di Stasiun Bandara Soekarno Hatta untuk ke setiap terminal sudah disediakan APMS ( Auto People Mover Service ) yang dijalankan tanpa masinis untuk menjalankannya alias otomatis, selain itu juga gratis.


Oke skip tentang kereta bandara, sekarang kita bicara tentang suasana terminal keberangkatan yang penampilannya tetap konsisten tetap seperti ini-ini aja. Lion air keberangkatan domestik dari Terminal 1 Bandara Soekarmo Hatta. Jam boarding dibuka jam 09:10, ontime banget dan penumpang dipersilahkan naik ke pesawat dan take-off juga ontime, mungkin karena masih pagi ya. Fyi, semakin pagi penerbangan maka kemungkinan untuk delay akan semakin kecil, bahkan untuk Lion Group sekalipun yang pagi itu on-time semua.


Penerbangan selama 1 jam 10 menit cukup terasa lama karna tanpa diberikan makan dan minum, ya namanya juga penerbangam low-service jadi udah ada pramugari aja udah cukup kok, hehe.

Pesawat mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi tepat jam 11:00, dan hal pertama yang paling gw pikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa sampai ke pusat Kota Jambi tanpa menumpangi angkutan taksi resmi bandara yang sangat mahal, hmm, gw langsung buru-buru  nyalain smartphone dan order Grab + Gojek, baik jasa motor dan mobilnya setelah 10 menit ga ada juga yang terima gw kebingungan sedangkan di depan jarak 10 meter tukang taksi sudah berderet memaksa menanyakan mau pergi kemana dengan bahasa Melayu dialek Jambi-nya itu.


Akhirnya setelah 15 menit menunggu ada notifikasi pengemudi yang bersedia mengantarkan gw ke pusat kota. Gw pun langsung menelpon driver itu di mana enaknya untuk dijemput, dia mengarahkan untuk berjalan kali keluar bandara dan dia ada di taman sebelah kiri jalan setelah pintu keluar.

Sejauh gw jalan kaki dari bandara menuju keluar sih aman aja ga ada tukang ojek atau taksi yang menghadang, tapi ternyata begitu keluar bandara disitulah pangkalan ojek berada dan gw dipaksa tentunya, dengan halus gw pun menolak tawaran mereka dan gw lebih memilih berjalan cepat dengan gaya sok santay seolah gw udah sering di daerah itu, hehe 😅

Tapi jurus itu kurang berhasil, gw terus dibuntuti sama tukang ojek itu disaat bersamaan gojek sudah menelpon gw berkali-kali dan akhirnya tukang ojek itu menyerah saat gw makin masuk ke dalam gang yang gw bilang bahwa itu adalah rumah gw berada, hehe 😁

Disaat itu pula si gojek dengan nomor plat yang sudah gw hapal setengah berhenti hingga akhirnya dia membawa gw pergi ke pusat kota. Sesampainya gw di Pempek Asiong yang ada di tengah kota Jambi itu gw langsung setengah kesetanan untuk sarapan + makan siang di sana. Habislah semangkok tekwan dan pempek yang panas di Jambi itu.


Selesai makan, gw iseng untuk order ojek online ke Candi Muaro Jambi, yang berjarak 20an KM atau setara 45 menit perjalanan motor, setelah menunggu agak lama akhirnya ada juga gojek yang mau ngantar ke Kabupaten Muaro, tempat dimana candi bersejarah di Pulau Sumatra itu berada. Dengan girangnya gw, tapi dengan raut penuh kecurigaan dari si abang gojek yang nerima orderan gw itu antara takut dibawa kabur, kepo sama turis yang aneh dan bingung juga dimana lokasi candi itu.


Akhirnya setelah gw jelasin dari A-Z si abang bisa paham dan mau ngantar juga, tentunya dengan nego harga arah pulangnya dan tip tentunya, karena dia juga akan nungguin gw selama di kawasan candi itu. Ya selama kurang dari 1 jam hanya berada di kawasan candi itu. Cuaca di sana cukup lembab dan membuat sangat berkeringat cukup banyak. Jalanan lintas sumatra dari dan menuju kabupaten Muaro Jambi ke Kota Jambi cukup mulus dan lurus dengan aspalnya.

Sesampainya kembali ke Kota Jambi gw minta diantarnya ke kawasan Ancol. Ancol? Iya di Jambi ada juga Ancol untuk di Jambi yang mana adalah salah satu tempat populer di Jambi.

Ancol Jambi ini tak ubahnya adalah kawasan pesisir sungai Batanghari yang cukup dikelola dengan baik meski di beberapa sudut masih terlihat ada sampah dan pedangang kaki lima yang kurang rapih. Namun tempat ini cukup bisa dijadikan tempat bersantai dan menikmati Kota Jambi.

Setelah puas foto foto di Ancol Jambi, masih ada satu tempat lagi yang akan dikunjungi sebelum menuju ke Kota Padang, yaiut monumen Monas Jambi. Monas? Ya, kota Jambi juga memiliki monumen/tugu yang menyerupai Monas di Jakarta. Namun hal unik yang didapati adalah ternyata Monumen Monas di Jambi telah dipugar/diganti menjadi Monumen Keris. Dimana ujung puncak dari bentuk emas menjadi bentuk keris. Kira-kira karena apa ya monumen ini diganti? Mungkin jika ads kalian yang tahu bisa bantu tulis di komentar ya.

Hanya beberapa menit di Monas Jambi jam sudah pukul 17:30, saatnya bersiap ke Terminal Alam Barajo yang merupakan tempat bus AKAP di Kota Jambi untuk menaik/turunkan penumpang. Cara tercepat untuk menuju Terminal Alam Barajo tentunya dengan ojek online.

Tiba di Terminal Alam Barajo dengan selamat pada pukul 18:00, sekitar 1 jam lagi Bus Family Raya Ceria menuju Padang. Tiket bus nya bisa dipesan secara online juga, salah satunya melalui website Easybook Indonesia dengan harga promo Rp 120.000 dari harga normalnya Rp 190.000

Kondisi bus nya cukup baik dan nyaman, AC terasa dingin dan tersedia juga bantal serta selimut sepanjang perjalan, tapi jangan dibawa pulang ya. Nah malam itu penumpang bus ini terlihat cukup penuh yaitu sekitat 75% dari kapasitas bus. Tepat pukul 19:00, akhirnya bus berjalan juga meninggalkan Kota Jambi dengan beberapa kali singgah untuk menaikkan penumpang lagi di sepanjang perjalanan.


Untuk lanjutan perjalanan backpacker dari Jambi menuju Padang ini akan berlanjut ke Part 2 ya, agar tidak terlalu panjang dalam satu page.

Link untuk part 2: https://rickyadiyanto.blogspot.com/2020/09/jambi-padang-backpacker-super-hemat.html?m=1


Sabtu, 02 Desember 2017

Pesona Tanjung Lesung dalam 1 Hari

Hari Jumat, 1 Desember 2017 ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah hari gw pergi untuk minggat  family gathering dari kantor ke Pantai Tanjung Lesung, di Panimbang - Pandeglang.

Jumat, 1 Desember 2017, 03:30 WIB
Ya, tepat para PSK pada pulang mangkal pukul 03:30 WIB gw dan ibu sudah harus bangun untuk siap-siap berangkat ke meeting point di kantor di wilayah Kalibata, Jaksel pukul 05:00. Jarak dari rumah ke kantor yang sekitar 40 menit tanpa macet memaksa gw, ibu dan teman kantor yang juga rumahnya deket rumah gw harus berangkat jam 04:15 😣😥.

Jam 05:30 kita semua udah berkumpul di meeting point untuk memulai perjalanan kita menuju Pantai Tanjung Lesung, tapi setelah melewati jembatan shiratal mustaqim banyak drama menunggu orang kantor yang harus kita tunggu yang dia ngekos 100 meter dari meeting point keberangkatan 😏 akhirnya kita lepas landas langsung menuju arah Pancoran untuk masuk Tol Dalam Kota arah Tomang

4,5 Jam Perjalanan

Dari Kalibata kita berangkat jam 06:15 dan tiba di Pantai Tanjung Lesung jam 10:40. Overall, perjalanan menuju arah barat tidak semacet ke arah timur ( Bandung ) atau arah selatan ( Puncak - Sukabumi - Cianjur ) dari arah Jakarta disaat long weekend seperti ini. Bus melaju dengan kecepatan menengah dan sekali berhenti di SPBU di Kota Cilegon selama 30 menit, ini berarti kalo bus melaju kencang dan tanpa istirahat kira-kira waktu tempuh bisa ditempuh hanya dalam 3,5 jam saja. Lebih cepat daripada ke Puncak atau ke Bandung bukan? ☺😊


Tiba di Pantai Tanjung Lesung
Setibanya di Gerbang Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ) Tanjung Lesung kita belum diminta untuk tiket masuk, ternyata itu masih masuk lagi ke dalam lagi dengan kondisi jalan akses yang cukup buruk kondisinya. Cukup disayangkan kawasan wisata se-cantik ini tidak ditunjang dengan akses infrastuktur yang baik. Semoga kedepannya KEK Tanjung Lesung dapat makin berkembang dari segi infrastuktur maupun sarana penunjang lainnya.
Harga tiket masuk kawasan Tanjung Lesung per orang adalah Rp 30.000 untuk hari kerja dan Rp 50.000 untuk hari libur







 Suasana di Pantai Tanjung Lesung ini cukup damai, bersih dan menenangkan. Bibir pantainya terdapat banyak karang karang kecil yang terbawa dari dasar lautan. Deburan ombaknya tidak terlalu besar sehingga anak kecil pun bisa berenang asal tetap dengan dampingan orang tua tentunya. Perlu dicatat bahwa semakin sore akan semakin tinggi air lautnya ( pasang ) sehingga datang lebih pagi adalah pilihan yang tepat.

Perjalanan Pulang ke Jakarta
Setelah seharian melakukan banyak foto-foto, perlombaan antar karyawan dan berbincang-bincang pada pukul 16:30 kami pun bergegas kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang lebih lama, karna bus mengisi solar di Labuan dan kembali berhenti di Anyer untuk beli oleh-oleh dan makan malam, hingga pada pukul 22:00 kami baru kembali tiba di Kalibata

Trip ke Tanjung Lesung bisa saja dilakukan dengan tanpa menginap, dengan catatan sepagi mungkin berangkat dari Jakarta untuk bisa berlama-lama di sana.