Clock

Sabtu, 02 Desember 2017

Pesona Tanjung Lesung dalam 1 Hari

Hari Jumat, 1 Desember 2017 ini bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, adalah hari gw pergi untuk minggat  family gathering dari kantor ke Pantai Tanjung Lesung, di Panimbang - Pandeglang.

Jumat, 1 Desember 2017, 03:30 WIB
Ya, tepat para PSK pada pulang mangkal pukul 03:30 WIB gw dan ibu sudah harus bangun untuk siap-siap berangkat ke meeting point di kantor di wilayah Kalibata, Jaksel pukul 05:00. Jarak dari rumah ke kantor yang sekitar 40 menit tanpa macet memaksa gw, ibu dan teman kantor yang juga rumahnya deket rumah gw harus berangkat jam 04:15 😣😥.

Jam 05:30 kita semua udah berkumpul di meeting point untuk memulai perjalanan kita menuju Pantai Tanjung Lesung, tapi setelah melewati jembatan shiratal mustaqim banyak drama menunggu orang kantor yang harus kita tunggu yang dia ngekos 100 meter dari meeting point keberangkatan 😏 akhirnya kita lepas landas langsung menuju arah Pancoran untuk masuk Tol Dalam Kota arah Tomang

4,5 Jam Perjalanan

Dari Kalibata kita berangkat jam 06:15 dan tiba di Pantai Tanjung Lesung jam 10:40. Overall, perjalanan menuju arah barat tidak semacet ke arah timur ( Bandung ) atau arah selatan ( Puncak - Sukabumi - Cianjur ) dari arah Jakarta disaat long weekend seperti ini. Bus melaju dengan kecepatan menengah dan sekali berhenti di SPBU di Kota Cilegon selama 30 menit, ini berarti kalo bus melaju kencang dan tanpa istirahat kira-kira waktu tempuh bisa ditempuh hanya dalam 3,5 jam saja. Lebih cepat daripada ke Puncak atau ke Bandung bukan? ☺😊


Tiba di Pantai Tanjung Lesung
Setibanya di Gerbang Kawasan Ekonomi Khusus ( KEK ) Tanjung Lesung kita belum diminta untuk tiket masuk, ternyata itu masih masuk lagi ke dalam lagi dengan kondisi jalan akses yang cukup buruk kondisinya. Cukup disayangkan kawasan wisata se-cantik ini tidak ditunjang dengan akses infrastuktur yang baik. Semoga kedepannya KEK Tanjung Lesung dapat makin berkembang dari segi infrastuktur maupun sarana penunjang lainnya.
Harga tiket masuk kawasan Tanjung Lesung per orang adalah Rp 30.000 untuk hari kerja dan Rp 50.000 untuk hari libur







 Suasana di Pantai Tanjung Lesung ini cukup damai, bersih dan menenangkan. Bibir pantainya terdapat banyak karang karang kecil yang terbawa dari dasar lautan. Deburan ombaknya tidak terlalu besar sehingga anak kecil pun bisa berenang asal tetap dengan dampingan orang tua tentunya. Perlu dicatat bahwa semakin sore akan semakin tinggi air lautnya ( pasang ) sehingga datang lebih pagi adalah pilihan yang tepat.

Perjalanan Pulang ke Jakarta
Setelah seharian melakukan banyak foto-foto, perlombaan antar karyawan dan berbincang-bincang pada pukul 16:30 kami pun bergegas kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang lebih lama, karna bus mengisi solar di Labuan dan kembali berhenti di Anyer untuk beli oleh-oleh dan makan malam, hingga pada pukul 22:00 kami baru kembali tiba di Kalibata

Trip ke Tanjung Lesung bisa saja dilakukan dengan tanpa menginap, dengan catatan sepagi mungkin berangkat dari Jakarta untuk bisa berlama-lama di sana.

Selasa, 22 November 2016

Backpacker 2 Hari di Batu Malang. Part 3

Keesokan hariya ga ada agenda khusus mau mengunjungi apa dan kemana.
Check out peningapan jam 10 pagi dan langsung otw Malang.
Sampe Malang Kota jam 12 siang, perut laper dan langsung makan ke Taman Kuliner Trunojoyo.

Selesai dari situ gw iseng liat aplikasi ojek online buat liat berapa tarif kalo mau ke Kampung Warna Warni.
Dan ternyata 8rb, padahal keliatannya cukup dekat.
Akhirnya gw iseng buat jalan kaki aja dan ternyata emang deket banget. Haha

Sekitar jam 3 sore cuaca udah mulai hujan lagi dan karena jam keberangkatan kereta yang udah mepet juga akhirnya langsung cuss aja buat ke stasiun. Kereta Matarmaja yang mengantar pulang ke Jakarta akan berangkat pada pukul 17:00 sembari menunggu gw pun habiskan dengan berkeliling seputatan Stasiun Malang, menurut saya pribadi stasiun ini sudah perlu direnovasi/diperluas agar bisa menampung penumpang lebih banyak karena mengingat kunjungan para backpacker yang semakin banyak, nah para backpacker ini mutlak membutuhkan kereta api untuk membawa mereka menuju Malang ini beda halnya dengan kalangan kelas atas yang mungkin lebih utamakan naik pesawat.

Tepat pukul 17:00 kereta diberangkatkan tepat waktu, dengan waktu tempuh 15 jam perjalanan akhirnya tiba pada 09:15 keesokan harinya, perjalanan yang cukup melelahkan karena kursi dari kereta ini jaraknya sempit dengan posisi super tegak. Setiba di Stasiun Pasar Senen gw lanjutkan menuju rumah dengan KRL. Perjalanan perdana ke Malang ini sangat berkesan dan menyegarkan kembali pikiran dari rutinitas sehari-hari.

Kebutuhan dana selama backpacker 2 hari di Batu dan Malang ini sebagai berikut ya:

1. Tiket kereta Matarmaja, pulang pergi, Rp250.000
2. Penginapan di Batu, Mama Homestay, Rp250.000/kamar
3. Tiket masuk Museum Angkot, Rp70.000/orang (weekday)
4. Makan selama 2 hari, Rp150.000 (makanan kaki lima)
5. Transportasi angkot selama 2 hari, Rp50.000

Total pengeluaran dana dari Jakarta ke Malang selama 2 hari adalah sebesar Rp700.000an saja, ini adalah yang paling hemat ya karena segala sesuatunya memang dipilih yang paling murah.
Semoga kita semua diberkahi kesehatan dan rezeki terus ya agar bisa backpacker keliling dunia ya, amiinn

Backpacker 2 Hari di Batu Malang. Part 2

Selain banyak yang jual makanan, di Pasar Apung Museum Angkut ini juga menjual berbagai oleh oleh khas Malang, mulai dari ganrungan kunci, kaos dan lain sebagainya. Kita ga sempet buat milih milih beli aneka ragam menarik yang ada di sana karena udah jam 2 siang. Kita langsung aja buat masuk ke Museum Angkut bagian tiketing. Kita ditawarin buat beli tiket 3 in 1 yang merupakan sudah termasuk tiket terusan D'Topeng Show dan buat naik replika pesawat yang ada di atap Museum Angkut. Pas pertama masuk kita disambut dengan mobil mobil antik dan jenis kendaraan lain yang ga kalah antik, ada andong atau delman, pesawat dan lain sebagainya pokoknya epik bener bener epik. Setelah itu kita ke lantai 2, di sini kita mulai masuk zona miniatur dunia dimulai dari Jakarta Tempo Dulu, Pergudangan Jakarta, lalu berganti zona ke Hollywood Gangster, lalu zona berikutnya Roma dan Paris, lalu ke zona Berlin, London lengkap dengan miniatur Istana Backingham-nya juga lho bener bener lumayan besar juga setelah itu ke zona terakhir yaitu Las Vegas dan lengkap sudah berkeliling Museum Angkut selama kurang lebih 4 jam! Iya 4 jam, karena museum ini bener bener luas dan tidak ada satu cm pun celah yang membosankan. Pokoknya bener bener edukatif dan atraktif serta kreatif juga inovatif dalam menciptakan museum yang tidak hanya menampilkan kendaraan masa lalu juga menyuguhkan hiburan serta miniatur dari berbagai kota di penjuru dunia. Dengan begitu seluruh anggota keluarga tidak ada yang merasa bosan ataupun jenuh disini karena segmentasi pengunjungnya yang sangat memungkinkan segala usia untuk turut belajar sambil berfoto di tempat ini, hehe.

Setelah lepas magrib kami pun ke pelataran depan Museum Angkut yang merupakan Jalur Utama antara Batu dan Malang. Kita makan bakso malang (lagi-lagi) dan abis itu cari tukang ojek yang siap mengantar kita ke penginapan yang sudah dibooking sebulan sebelumnya via online. Nama penginapannya Mama Homestay, selain harganya murah tempatnya juga strategis dan pemiliknya ramah (baca: Ricky) . Sampai di homestay kita langsung mandi lalu tidur karena sudah terlampau lelah keliling Malang lanjut ke Museum Angkut dari pagi hingga malam

Backpacker 2 Hari di Batu Malang. Part 1

Perjalanan gw kali ini ke dua kota berbeda yang sebenernya jaraknya cuma sejengkal hari (kalo dari atlas) ibarat Jakarta - Bogor, kurang lebih sama dengan Malang - Batu.

Yaps, kali ini adalah kali kedua (bukan lagu Raisa) gw berkesempatan ke Jawa Timur dalam misi #JavaExplorerMission2016 sebelumnya gw ke Surabaya pas sebelum tahun baru 2016 sih, tapi tetep gw masukin tempat yang gw kunjungin selama 2016 ini.

Ke Batu - Malang ini gw ga sendiri, karna ada sahabat gw yang tadinya agak ogah agak mau buat ikutan join. Dan akhirnya jadi juga.

Minggu, 2 Oktober 2016
Setelah beli ticket sebulan sebelumnya, saat yang ditunggu datang juga. Dari minggu siang gw udah berangkat dari rumah. Begitupun sama temen gw yang dari Bogor. Kita janjian di Stasiun Cawang jam 1 siang abis itu kita lanjut buat naik Transjakarta ke Stasiun Senen.

Gw mutusin buat naik Transjakarta ke Stasiun Senen karna pertimbangan lebih praktis, alias ga transit transit nunggu kereta yang notabene agak lama kalo nunggu kereta arah Senen dari Jatinegara.

Kita akhirnya mendarat juga di Bus Stop Transjakarta di deket Stasiun Senen jam 2 lewat dikit, tentu perjalanan yang lumayan singkat menurut gw. Begitu sampe area stasiun hal pertama yang dilakukan adalah Cari mesin check in buat cetak boarding pass, abis itu ke minimarket buat beli perbekalan karna perjalanan selama 16 jam lebih.

KA Matarmaja yang gw naikin ini tentu kelas Ekononomi. Kelas rakyat jelata yang sangat gw andalkan dalam #JavaExplorerMisssion2016 ini. Kereta berangkat on time jam 15:15.

Sejam, dua jam, tiga jam pertama dalam perjalanan gw masih bisa enjoy duduk di kursi tipis, keras & menyakitkan dari KA Ekonomi ini. Tapi setelah 8 jam perjalanan rasa sakit yang tertahankan (alah lebay) mulai merasuki (lebay lagi) punggumg gw karna kursinya bisa dibilang kurang nyaman buat rebahan. Meskipun keadaan kereta saat itu ga terlalu penuh tapi rasanya tetep riuh karna ada balita yang nangis.

Memasuki wilayah Jawa Timur, mulai dari Stasiun Madiun suasanya udah mulai banyak hijau hijau yang sangat menyejukan mata. Perjalana terus berlanjut hingga Tulungagung, Kediri sampe akhirnya Malang Kota Baru. Stasiun ini emang terletak di pusat keramaian Kota Malang. Dekat Tugu Malang, DPRD, Kantor Walikota.

Sampe di Malang jam 8 pagi lewat, karna laper jadi kita cari sarapan dulu di wilayah sekitar stasiun. Akhirnya kita nemuin tempat kaya semacem sentra kuliner gitu di taman depan stasiun, lupa namanya. First impression sih tempatnya nyaman, asri. Dan ternyata harga makananya murah. Jauh lebih murah dari harga di Jakarta atau Surabaya. Rasanya juga enak tentunya & porsinya yang lumayan jumbo jadi pas deh buat yang baru turun kereta dan nyari makanan murah & enak.

Selesai makan kita jalan ke arah barat, karna di situ keliatan dari jauh ada Tugu Malang yang sekilas mirip sama Tugu Muda di Semarang kalo ga salah. Jadilah kita tetep berfoto di sana, apapun itu bentuknya, hehe

Pas lagi asik foto-foto kita liat ada bus Macito "Malang City Tour" yang kurang lebih sama bus wisata Transjakarta, cuma bedanya ini kalo di Malang atapnya terbuka jadi lebih bisa puas merasakan suasana Kota Malang & terpapar teriknya matahari. Ternyata bus nya baru banget jalan buat muter satu puteran yang artinya kita harus nunggu buat jadwal berikutnya.

Setelah kita nunggu dan satu persatu orang lain juga datang menghampiri buat nunggu akhirnya Bus Macito tiba, yeay!

Dengan persaan girang tak terbendung gw naik ke bus tingkat dengan atap terbuka yang pertama kali gw naikin ini. Cuacanya panas panas dingin gimana gitu (tetep banyakan panasnya kalo di Malang Kota) jalan demi jalan dilewatin dengan bus ini dengan penuh sedikit halang lintang (baca: ranting pohon) yang notabene pendek pendek buat di dalem Malang Kota ini.

Mulai dari alun alun, kawasan pecinan, kota lama, pusat hiburan, pasar, wah lengkap banget deh yang disusuri Bus Macito ini bener bener puas naik bus ini selain karena naiknya gratis, hehe.

Selesai keliling keliling sekitar jam 11 siang gw sempet bingung mau kemana, tadinya mau ke Batu tapi karena waktu udah siang dan belom mandi juga (baca: dari minggu pagi) akhirnya gw cari toilet umum yang deket Stasiun Malang Baru yang tadi sempet gw liat ada. Jam 12 kita naik angkot Arjosari Dinoyo Landungsari (baca: ADL) yang akan bawa kita ke Terminal Landungsari. Oya, fyi di Malang Raya (termasuk Batu) penomoran angkot tidak menggunakan angka tapi akronim dari rute rute angkotnya. Ongkos angkot ADL Rp. 4000 dengan waktu tempuh 30 menit. Dari Terminal Landungsari masih lanjut lagi naik Bus Puspa Indah buat ke Batu. Tapi tergantung Batu nya sebelah mana ya,, kalo mau ke Museum Angkut atau Alun Alun Batu naik bus Puspa Indah jurusan Jombang nah kalo mau ke Jatim Park 1, 2 & BNS naiknya angkot BJL (Batu Jugrejo Landungsari) .

Di tengah cuaca yang gerimis kurang dari 30 menit kita sampe di Museum Angkut, ongkosnya Rp. 4000 juga. Pas nyampe depan Museum Angkut satu kata yang tepat buat mewakilinya, yaitu GEDE. Yap, dari luar semi-indoor museum ini keliatan gede bin luas banget. Ada replika pesawat di atap nya dan pasar apung di bagian depannya. Awalnya kita mau langsung masuk tapi berhubung kayanya ini museum bukan sembarang museum jadi ya kita melipir dulu ke Pasar Apung buat beli makanan ngisi perut dulu.

Minggu, 24 April 2016

Jogja Backpacker : Nekat Banget. Part 2

Setelah seharian kemarin udah explore Jogja, di hari kedua ini gw dan dua temen gw bakal melanjutkan penjelajahan kita.



Pagi pagi sekali sebelum subuh malah, kita udah 'stop billing' di warnet dan bayar 19rb. Gw rencananya mau ke Malioboro naik Trans Jogja, sesampainya di halte MT. Haryono kita mampir dulu ke masjid buat sholat subuh.



Selesai sholat subuh, beres beres dan ganti baju di toilet masjid kita pun bergegas buat ke halte mumpung masih sepi. Ga lama kita nunggu bus datang dengan kondisi yang sepi jadi gw bisa duduk. Cuma beberapa menit gw sampe di Malioboro... yeayy!!!



Suasana Jalan Malioboro pagi itu sepi banget, maklum baru jam 6. Enak banget jalan pagi pagi di sini. Sepi dan tenang. Terlihat beberapa tukang makanan bersiap membuka dagangan mereka. Gw pun tertarik buat nyobain berhubung belum sarapan juga.



Ternyata harganya murah. Gw makan nasi kucing 2rb, gorengan 1rb dan teh anget 2rb. Cuma 5rb perut udah kenyang makan di sini. Coba bandingin sama Jakarta, 5rb cuma dapet minum doang.



Setelah kenyang sarapan, gw pengen ke Keraton Jogja yang ada di ujung selatan Jalan Malioboro. Setelah bertanya sama tukang becak ternyata Keraton Jogja baru buka jam 10, ya sudahlah jalan jalan saja dulu di Malioboro. Dengan perasaan norak dan antusias (maklum baru pertama) gw berfoto di bawah plang papan nama Jalan Malioboro yang ada di ujung utara, dekat Stasiun Tugu.



Setelah jam 9, gw dan temen temen gw ditawarin sama tukang becak yang bakal nganterin ke tempat oleh oleh Bakpia Pathok dan Keraton Jogja dengan harga hanya 10rb.. wawwww,,, murah banget bukan???



Sesampainya di pusat oleh oleh Bakpia Pathok, langsung disuguhi sama berderet cemilan dan snack khas Jogja. Apapun rasanya mayoritas manis dan gurih. Tapi yang paling ikonik adalah Bakpia rasa kacang hijaunya. Di tempat ini kita bisa leluasa memilih beragam makanan tradisional untuk buah tangan ketika pulang dengan harga yang cukup terjangkau. Kisarannya mulai 25rb hingga 50rb untuk tiap jenis oleh oleh.



Setelah beli oleh oleh, masih dengan tukang becak yang dari tadi nungguin kita di depan toko untuk mengantar ke Keraton Jogja.



Sampai di Keraton jam 10 lewat sedikit, masih cukup sepi di sini mungkin karena bukan musim liburan. Gw beli tiket seharga 5rb untuk berkeliling Keraton Jogja ini.



Tapi ternyata di dalem Keraton Jogja udah ada rombongan sekolah yang rame banget. Jadi ya, suasanya yang tadinya hening berubah jadi riuh.



Nilai historis dan budaya Jawa dalam bangunan Keraton ini sangat kental. Bisa dilihat dari struktur bangunan yang masih asli terbuat dari pohon jati. Tulisan Sanskerta yang mendominasi tiap bangunan makin ngingetin kita betapa miripnya tulisan Jawa ini sama tulisan Thai. Entah gimana caranya bisa mirip.



Di bagian depan ada rumah joglo dengan pendopo utama yang luas dan adem. Ada juga museum di barat dan timur pendopo. Bergerak ke arah selatan ada lagi pendopo yang lebih besar dan adem. Ada banyak burung gereja yang mengelilingi pendopo ini. Selain itu banyak pohon pohon besar yang menambah kerindangan di sini. Ke arah selatan, ada museum yang menampilkan foto foto Keraton pada masa lalu.



Semakin siang cukup sepi di Keraton ini. Berhubung laper juga gw keluar dari Keraton ini buat makan di Malioboro. Tapi sebelum ke Malioboro gw dan temen gw sempetin mampir ke Alun Alun Kidul. Yappsss, karena ada dua pohon beringin yang melegenda. Yang katanya kalo kita bisa berjalan lurus melewati tengah tengah diantara dua beringin itu berarti kita termasuk orang yang beruntung dan berhati mulia, tapi terserah sih mau percaya atau engga



Dari Alun Alun Kidul gw dan temen-temen gw jalan kaki ke Malioboro. Yaps, jalan kaki. Lumayan jauh emang, tapi karena cuacanya agak mendung dan suasananya yang seru jadi ga berasa.



Setelah makan di Malioboro, hari sudah sore duit pun udah makin mepet padahal gw baru akan pulang besoknya. Yaa kira kira cuma cukup buat uang makan lah. Akhirnya gw putusin aja buat langsung ke Stasiun Lempuyangan nunggu kereta keberangkatan besok sore. Omg. Sebegitunya kah?



Habis mau gimana lagi. Mungkin salah gw dan temen temen gw juga yang terlalu terlena sama pedagang oleh oleh di Borobudur dan Malioboro walhasil uang yang dibawa mepet banget makin mepet setelah beli oleh oleh.



Ternyata jalan kaki dari Malioboro ke Stasiun Lempuyangan jauhnya bukan main! Jaraknya setara dari Senayan ke Bundaran HI, dan itu gw lakukan selama jalan kaki hampir satu jam. Tapi tetep sambil sesekali duduk buat istirahat dan menikmati panorama Jogja.



Sesaat sebelum sampe stasiun, jalanan yang tadinya rame berubah jadi gang yang agak sepi dan rimbun sama pepohonan. Suasana itu mengingatkan gw sama suasana di Jalan Nyamplungan, Kota Surabaya tempat di mana gw dijambret. Persis banget. Kesel, dan campur aduk perasaan gw kalo inget kejadian itu. Dengan penuh waspada dan hati-hati gw lewatin jalan kaki demi sampe ke stasiun dengan selamat.



Alhamdulilah, ga lama ada pertigaan besar yang merupakan jalan keluar dari gang yang sepi, lengang tadi. Suasananya langsung ramai sama becak, motor, mobil dan tentunya bus TransJogja.



Sesampainya di stasiun, gw dan temen gw langsung rebahan, nyelonjorin kaki di ruang tunggu penumpang. Gila, kalo diitung itung lebih dari 5 KM gw jalan kaki dari pagi di Jalan MT. Haryono ke Keraton Jogja lanjut ke Malioboro dan terakhir ke Stasiun Lempunyagan ini. Mungkin buat warga Jogja bisa lah ngebayangin betapa jauhnya perjalanan hari ini.



Hari mulai gelap dan perut gw udah konser minta makan. Kebetulan di depan stasiun banyak tukang makanan yang berjejer yang menggoda khas Jawa. Banyak pilihan jadi bikin gw bingung, akhirnya gw pilih mie ayam. Hmmmm,,,, rasanyaa sungguuhhh... biasa aja, hehe.. gatau kenapa ini mie ayam rasanya tawar banget menurut gw. Anta gitu. Kurang garem. Kurang ayamnya. Tapi mienya banyak bangettt.... asli, ini mie ayam ter-absurd yang pernah gw makan. Murah sih, cuma 6rb dan bikin kenyang banget, tapi rasanya itu lhooo... sungguh.



Setelah balik ke ruang tunggu penumpang, temen gw yang ngejagain tas dan barang bawaan gw minta gantian buat dijagaain barang bawaannya karena dia juga pengen makan.



Lagi lagi di malam yang kedua di Jogja ini di mana gw akan menginap belum juga terpecahkan solusinya. Temen gw minta buat nginep aja di ruang tunggu sampe pagi, daripada cari warnet lagi belum tentu ada yang 24 jam dekat situ.



Sebenernya ga ada yang salah sama apa yang temen gw bilang, tapi masalahnya, menurut penuturan tukang mie ayam tadi kalo gerbang Stasiun Lempunyangan bakal ditutup jam 22:00. Yang berarti kalo gitu ada dua kemungkinan, pertama kita tetep bisa nginep di dalem ruang tunggu penumpang yang nyaman ini sampe pagi sementara gerbang dikunci atau kemungkinan kedua kita bakalan diusir sama petugas stasiun karena jadwal keberangkatan kereta terakhir dari Stasiun Lempunyangan itu jam 22:00.



Daripada pusing sama banyak kemungkinan di atas, gw milih nyantai aja di bangku yang panjang dan kosong ini. Dan gw liat sekeliling, banyak juga penumpang yang sepertinya bakal menginap dengan membawa barang bawaan mereka yang banyak.



Malah ada seorang mbak yang dari Jakarta jadi kenal sama gw. Dia nanya ke gw, kalo mau ke Malioboro seberapa jauh. Gw bilang aja kalo ke Malioboro itu jauh bangetttt, (realitasnya ga terlalu jauh) dia berniat menginap semalam aja, karena kebesokannya mau melanjutkan perjalanannya ke Bali dengan Kereta Sri Tanjung yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 7 pagi.



Setelah tau kalo jaraknya jauh, akhirnya mbak itu milih nginep aja di ruang tunggu stasiun , toh banyak juga temennya di sini kata dia. Kita jadi ngobrol panjang lebar tentang petualangan masing masing. Hingga waktu menunjukkan 22:00 ternyata benar saja petugas stasiun mulai berdatangan untuk memberitahu kepada para calon penumpang yang berniat menginap agar segera meninggalkan stasiun.

Perlahan gw pun meninggalkan stasiun sambil terus berusaha berpikir jernih dan terlihat dari jarak agak jauh terdapat masjid yang cukup besar. Baru saja hendak masuk ke dalam masjid sudah ada marbot atau penjaga masjid yang melarang kita untuk menginap di dalam "Tidak ada yang boleh bermalam di dalam masjid" katanya dengan dialek khas Jawa.

Akhirnya gw bersama teman gw memutuskan untuk tidur di teras masjid. Angin dingin Jogja di malam hari seakan membuat tidur semakin nyenyak. Keesokan paginya sebelun adzan subuh berkumandang gw sudah terbangun karna rasa dingin yang luar biasa untung saja gw dan teman membawa jaket yabg cukup tebal sebagai alas tidur. Matahari terus menyingsing dan gw pum bersiap untuk menunggu waktu keberangkatan kereta.

Perjalanan perdana ke Jogja ini banyak memberikan pelajaran bagi gw, diantaranya adalah masih sangat banyaknya orang baik di luaran sana tapi tetap harus berhati-hati. Lalu pelajaran berikutnya adalah persipakan segala sesuatunya dengan matang jika ingin berpergian ke luar kota sekalipun hanya backpacker, jangan memaksakan keinginan jika kondisi tertentu tidak memugkinkan. Dan yang terakhir adalah isilah masa muda dengan penuh pengalaman dan jalani dengan penuh semangat. 

Jumat, 22 April 2016

Jogja Backpacker : Edisi Nekat. Part 1

Hello  semua

Setelah seminggu yang lalu gw udah ke Sukabumi, dalam rangka menyambut liburan akhir sekolah, cielah.. Gw punya plan selanjutnya buat ngetrip lagi. Lagi lagi kota pertama bagi gw, ya karna gw masih kuper.. bareng tiga orang temen, kita berangkat pas tanggal 18 April 2016. Kita naik kereta yang malem dari Pasar Senen biar bisa sampe sana pagi.



Espektasi yang semula menganggap di perjalanan bakal dingin, tenang dan kita bisa tidur ternyata cuma espektasi belaka.. you know lah, KA Progo ini ACnya ga kerasa parah, dan banyak juga rombongan yang kalo ngobrol suka ngurat-ngurat (red: teriak-teriak). Alhasil kita cuma bisa pasrah sama sikon.



Beskonya, kita sampe di Stasiun Lempuyang jam 7 pagi. Begitu sampe di stasun, kita sarapan dulu sama makanan yang emang temen gw siapin biar ga bingung mau makan apa begitu nyampe (red: biar hemat)



Abis itu, tadinya udah berespektasi bakal mandi di toilet stasiun sirna sudah pas ada kalimat tertulis di pintu toilet, "Dilarang Mandi!!!!" Haha, akhirnya gw cuma bisa cuci muka di sini sebelum ngemulai trip ke Candi Borobudur.



Ada banyak cara buat ke Candi Borobudur dari Jogja. Bisa naek taksi kalo mau praktis, bisa juga naik transport umum lainnya,  seperti bus. Dari Stasiun Lempuyang kita harus naik Trans Jogja yang menuju Terminal Jombor. Jaraknya emang lumayan jauh, kalo males jalan bisa naik becak sekitar 5-15rb aja. Tarif Bus Trans Jogja itu Rp. 3600, tapi kalo bayar pake Flazz BCA cuma Rp. 2700 untuk sekali jalan. Sisitemnya serupa sama Trans Jakarta, saat transit ga perlu bayar lagi dan pintu bus yang tinggi.



Dari Terminal Jombor kita harus nyambung lagi bus 3/4 (seukuran Kopaja, MetroMini) selama kurang lebih sejam lah kalo ga macet. Ongkosnya waktu kemarin sih 20rb tapi pas musim liburan bisa naik jadi 30rb. Untunglah bukan lagi musim liburan jadi bisa ngirit...



Sesampainya di Terminal Borobudur kita harus jalan kaki lagi selama 30 menit, atau kalo mau cepet kalian bisa naik andong atau becak. Cuaca hari itu panaass banget, jadi lumayan ngos-ngosan. Begitu sampai di gerbang, kita bakal disambut sama rumah joglo khas jawa yang merupakan loket penjualan tiket. Dengan tket seharga Rp. 30.000 kita bisa puas keliling kompleks Candi Borobudur yang terdiri dari beberapa museum, toko souvenir dan tentunya Candi Borobudur itu sendiri.



Untuk menuju puncak candi, cuacanya ga kalah panas, tapi tenang saat sebelum masuk ada banyak penawar jasa penyewaan payung seharga 5rb.



Sekitar dua jam berada di Candi Borobudur dan beli oleh oleh, karna sudah siang kita langsung cari makanan yang biasa dijajakan sama penjual di sini. Kita bertiga makan bakso dan minum seharga 12rb, meski rasanya ga terlalu spesial tapi lumayan buat mengganjal perut.



Selesai makan, jalan lagi ke Terminal Borobudur buat naik bus pulang ke Jogja (fyi Candi Borobudur ini bukan berada di Jogja tapi di Magelang)



Oya, dari tadi kan gw cuma cerita perjalanan aja tapi belum ngasih tau di mana bakalan nginep? Haha, thats right. Gw memang belum booking hotel karna gw pikir bukan musim liburan jadi bisa gampang nemu hotel, terutama yang murah.



Sebenernya gw udah mau bookinh penginapan di daerah Pugeran, sekitar 1km barat Alun Alun Kidul dan sangat dekat sama halte TransJogja MT. Haryono. Dan,, jeng jengg.... sesampainya di penginapan itu untuk check-in ternyata full-booked. Espektasi awal yang mau mandi dan istirahat di kamar hotel harus sirna sudah.



Terbesit ide buat nginep di masjid. Dan temen gw yang lain juga setuju, akhirnya kita bertiga coba cari masjid yang dekat situ. Dan kebetulan ga jauh dari situ ada masjid yang keliatannya nyaman dan strategis di pinggir jalan.



Tapi...



Setelah gw ketemu sama pengurus masjidnya untuk minta izin menginap, jawabannya



"Tidak boleh mas"



Hah... udah jam 8 malem tapi masih belum jelas juga mau tidur di mana, akhirnya kita bertiga makan dulu di tukang pecel ayam pinggir jalan buat cari inspirasi



Dan akhirnya temen gw punya ide buat nginep di warnet 24 jam. Kedengarnnya agak gila tapi daripada harus tidur di pinggir jalan, yasudahlah. Langsung aja kita nanya ke tukang becak dekat situ. Dan ternyata ada. Namanya Qta.net yang ada di Jalan Sugeng Jeroni. Fasilitasnya lumayan lah di sini, kursi sofa, bilik pembatas yang tinggi, ada toiletnya dan deket dari Indomaret juga. Tapi sayangnya gaada paket malam di sini, jadi tarif perjamnya yang diitung. Tarif perjamnya Rp. 2500.

Jadilah malam itu kita bertiga bermalam di warnet, hehe

Sabtu, 16 April 2016

Backpacker Sehari di Sukabumi : Cuma 100rb an!

Untuk mengisi waktu libur panjang setelah UN dan menunggu ijazah SMK saya turun bulan depan, saya sudah merencanakan untuk berlibur singkat ke Sukabumi.



Kenapa singkat?



Karena saya hanya ingin mengunjungi kota tersebut hanya dalam sehari, bahkan kurang.





Emang ga ribet?



Pasti buat sebagian orang yang ingin praktis dan mengedepankan kenyamanan, perjalanan singkat ini tidak dianjurkan. Tapi beda halnya buat para 'backpacker' yang ingin tetap menjelajahi suatu wilayah dengan budget minim.

Banyak jalan menuju Roma, begitu juga banyak jalan menuju Sukabumi.



Bagaimana caranya?



Dari Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Depok kita bisa langsung naik KRL Commuter Line tujuan Bogor. Dari Bogor, kita punya dua pilihan untuk lanjut ke Sukabumi, bisa naik Kereta Pangrango atau naik Colt/L300



Lebih murah mana?



Kalo masalah harga sih relatif sama, naik Colt/L300 dari Baranang Siang (dekat Botani Square) sekitar 15-20 ribu, sedangkan naik KA Pangrango dari Stasiun Bogor Paledang (belakang Matahari/KFC Taman Topi) tarif Ekonomi 20rb untuk hari kerja, 25rb untuk akhir pekan dan tarif Eksekutif 50rb untuk hari keeja, 60rb untuk akhir pekan. Kalo menurut saya sih lebih murah naik kereta karena meski harganya sedikit lebih mahal, tapi waktu kedatangan dan waktu perjalanan yang lebih pasti membuat kereta menjadi prioritas



Seharian mau kemana aja?



Sebenarnya kita bisa mengunjungi hingga dua tempat wisata di Sukabumi jika kita menyusun itinerary yang tepat, tapi berhubung kemarin saya menyusun itinerary secara mendadak, jadinya cukup banyak waktu yang terbuang



Berikut itinerary seharian di Sukabumi

Stasiun Cisaat - Situ Gunung - Curug Sawer - Stasiun Cisaat

Atau

Stasiun Cisaat - Situ Gunung - Jalan Bhinneka - Alun Alun Kota Sukabumi - Stasiun Sukabumi



Dari Bogor Paledang naik KA Pangrango (terserah mau naik Ekonomi atau Eksekutif) paling pagi jam 8:05 dan turun saja di Cisaat (sampai jam 10:10)



Dari Stasiun Cisaat kalian ke arah barat stasiun, kalian ketemu pertigaan kecil, lalu kalian jalan kaki menuju utara melewati perkampungan warga hingga sampai di Alun Alun Kecamatan Cisaat, kalo kalian bingung menentukan arah bisa liat di Google Maps, jalan kaki sekitar 20-30 menit tergantung kecepatan kaki kalian (fyi, sinyal yang bagus di sini itu Telkomsel, Indosat, XL)



Dari Alun Alun Cisaat ada persimpangan yang cukup besar, kalian masih harus jalan lagi ke arah utara sampe nemu angkot merah yang ngetem buat menuju Situ Gunung, ongkosnya 10rb aja kok, naik angkot sekitar 30 menit, oya angkot merah ini ngetemnya ga lama kok karena penumpangnya banyak



Sampai di Gerbang Situ Gunung sekitar jam 11:30 siang, kalian harus jalan kaki lagi buat sampai di Danau Situ Gunung, fyi tiket masuk 16rb untuk hari kerja & 18rb untuk akhir pekan



Jalan kaki sekitar 20-30 menit sampai di Danaunya, di sini kalian bisa makan siang di sini karena banyak pedagang yang jual makanan dan minuman atau kalian juga bisa bawa makanan dari rumah untuk piknik sambil duduk di atas rumput beralas karpet tentunya.



Fasilitas lumayan bagus, ada toilet yang bersih dan mushola tentunya. Setelah puas menikmati pemandangan yang indah dan suasana yang menenangkan, kalian bisa lanjut menuju Curug Sawer yang memakan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam dari Danau Situ Gunung



Jika kalian ingin menuju Curug Sawer, di Danau Situ Gunung kalian gabisa lama lama, sebelum jam 1 siang kalian udah harus ke Curug Sawer.

Sampai di Curug Sawer sekitar jam 2 siang. Di sini pun kalian gabisa lama lama juga, karena kita ngejar kereta buat ke Bogor lagi, jam 14:30 kalian udah harus ke gerbang tadi. Dengan estimasi waktu jalan kaki sekitar 1,5jam, dari Curug Sawer ke Gerbang Situ Gunung, maka sekitar jam 16:00 kalian sudah di gerbang, buat ngejar kereta jam 16:30 di Stasiun Cisaat maka kalian harus naik ojek buat mempersikat waktu, kalo naik ojek sih dijamin cepat, tarifnya sekitar 20rb-30rb.



Jika kalian ga ke curug sawer, dari jam 13:00 kalian bisa ke pusat oleh oleh Mochi Kaswari di Jalan Bhinneka, naik ojek sekitar 1 jam dengan tarif sekitar 50rb-70rb. Puas beli oleh oleh, sebelum jam 15:00 kalian bisa mampir dulu ke Alun Alun Kota Sukabumi dengan angkot. Sebelum jam 16:00 kalian sudah harus pergi ke Stasiun Sukabumi buat ngejar kereta ke Bogor jam 16:20, ongkosnya sekitar 5rb - 10rb karena dekat



Itu dia tadi tips jalan jalan singkat ala backpacker di Kota Sukabumi, sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi kalo kalian punya waktu lebih banyak , seperti Taman Selabintana, Gunung Sunda, Pantai Pelabuhanratu.

Total biaya yang dihabiskan untuk perjalanan selama sehari dari rumah ke Sukabumi tidak sampai Rp200.000 per orangnya. Pergi jalan-jalan itu ga mahal, yang lebih mahap adalah pengalaman yang kita dapat saat pergi jalan-jalan. Semoga kita semua selalu diberkahi kesehatan dan rezeki untuk tetap bisa backpacker.